DI BAWAH POHON MANGGA, MERAWAT MIMPI MENJADI PUSAT PERADABAN. Catatan Kopi Pagi : Refleksi dari Kampus STAI Babussalam Sula Maluku Utara.

Oleh: Dr. Mohtar Umasugi,. S.Ag,. M.Pd.I

Suatu sore, saya duduk santai di bawah rindangnya pohon mangga yang berada di halaman kampus STAI Babussalam Sula Maluku Utara, Desa Pohiea, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula. Sambil menikmati suasana sore yang tenang, pandangan mata saya tertuju pada satu per satu bangunan kampus. Saya memperhatikan ruang perkuliahan, fasilitas yang tersedia, serta berbagai sudut lingkungan kampus yang menjadi saksi perjalanan panjang sebuah cita-cita besar tentang pendidikan dan masa depan generasi Sula.

Dalam suasana sederhana itu, pikiran saya melayang jauh. Ada kebanggaan, tetapi sekaligus ada kegelisahan yang sulit saya sembunyikan. Kebanggaan karena di tengah berbagai keterbatasan, kampus ini masih mampu berdiri, menjalankan aktivitas akademik, mendidik generasi muda, dan setiap tahun melahirkan sumber daya manusia yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah. Namun, di balik kebanggaan itu, muncul sebuah pertanyaan besar: bagaimana masa depan kampus ini harus diperjuangkan?

STAI Babussalam Sula bukan perguruan tinggi yang tumbuh dengan segala kemewahan fasilitas dan dukungan finansial yang memadai. Kampus ini tumbuh dari semangat pengabdian, keberanian mengambil tanggung jawab sejarah, serta keyakinan bahwa masyarakat di daerah kepulauan juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas.

Saya meyakini bahwa keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata diukur dari megahnya bangunan, luasnya halaman, atau lengkapnya fasilitas. Lebih dari itu, ukuran keberhasilannya terletak pada kemampuan membangun tradisi akademik, mengembangkan ilmu pengetahuan, melahirkan pemikiran kritis, serta menciptakan sumber daya manusia yang memiliki integritas dan tanggung jawab sosial.

Salah satu ikhtiar yang terus dilakukan STAI Babussalam Sula adalah mendorong peningkatan kualitas sumber daya dosen. Setahap demi setahap, para dosen diberikan motivasi dan ruang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) maupun doktor (S3). Sebab, masa depan perguruan tinggi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa kampus ini masih menghadapi persoalan mendasar, terutama keterbatasan sumber daya keuangan. Kondisi tersebut berdampak pada pengembangan sarana dan prasarana, peningkatan layanan akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kelembagaan.

Lebih jauh, ada satu kegelisahan yang patut menjadi perhatian bersama. Sejauh ini, sentuhan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula terhadap pengembangan STAI Babussalam Sula belum terlihat signifikan, terutama dalam bentuk dukungan peningkatan kualitas, mutu, dan pendanaan yang benar-benar menjawab kebutuhan kemajuan akademik.

Seolah-olah berkembang persepsi bahwa perguruan tinggi merupakan tanggung jawab pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah. Padahal, meskipun penyelenggaraan pendidikan tinggi memiliki kewenangan dan mekanisme pembiayaan tersendiri, pemerintah daerah tetap memiliki ruang untuk berkontribusi melalui kolaborasi, fasilitasi, dan dukungan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kita perlu menyadari bahwa STAI Babussalam Sula bukan institusi yang berdiri tanpa kontribusi terhadap daerah. Sudah banyak alumninya yang menyelesaikan pendidikan dan kembali mengabdikan diri di Kabupaten Kepulauan Sula. Mereka hadir sebagai tenaga pendidik, bekerja di berbagai sektor, menjalankan tugas pemerintahan, serta mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Lantas, jika perguruan tinggi lokal telah ikut menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan daerah, mengapa perhatian terhadap keberlangsungan dan peningkatan kualitasnya belum menjadi prioritas yang signifikan?

Menurut saya, pemerintah daerah perlu membangun perspektif baru bahwa perguruan tinggi lokal merupakan mitra strategis pembangunan. Dukungan dapat diwujudkan melalui kerja sama penelitian, peningkatan kompetensi dosen, fasilitasi beasiswa, penguatan sarana prasarana, dan dukungan program akademik melalui mekanisme yang sah.

Saya kemudian kembali bertanya dalam hati: mungkinkah suatu saat nanti kampus sederhana ini menjadi pusat peradaban di Kabupaten Kepulauan Sula?

Saya percaya, pusat peradaban tidak selalu lahir dari bangunan yang megah. Pusat peradaban lahir dari pikiran-pikiran yang tercerahkan, tradisi keilmuan yang hidup, penelitian yang menjawab persoalan masyarakat, serta keberanian melahirkan gagasan untuk perubahan.

Karena itu, STAI Babussalam Sula harus terus tumbuh menjadi rumah ilmu pengetahuan, persemaian intelektual, ruang pembentukan karakter, dan tempat lahirnya gagasan bagi kemajuan daerah.

Sore itu, ketika masih duduk di bawah pohon mangga, saya kembali memandang bangunan-bangunan kampus yang sederhana. Dalam hati saya berkata: mungkin hari ini kita belum memiliki segalanya, tetapi jangan sampai keterbatasan membuat kita kehilangan mimpi.

Membangun kampus bukan sekadar membangun gedung untuk hari ini, melainkan menanam pohon peradaban untuk dinikmati generasi yang akan datang. Jangan biarkan perguruan tinggi lokal berjuang sendirian melahirkan generasi yang kelak akan membangun daerahnya sendiri.

Sebab, ketika kita merawat perguruan tinggi, sesungguhnya kita sedang merawat masa depan sumber daya manusia dan peradaban Kepulauan Sula.