Asesmen LAMDIK Meneguhkan Budaya Mutu

Oleh : Mohtar Umasugi

Hari ini menjadi salah satu momentum yang sangat bersejarah bagi STAI Babussalam Sula Maluku Utara. Dua orang asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), yaitu Dr. ST. Syamsudduha selaku Asesor I dan Prof. H. Nurcholish selaku Asesor II, telah tiba di Sanana. Insya Allah, besok keduanya akan melaksanakan Asesmen Lapangan (AL) terhadap Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Jurusan Tarbiyah.

Bagi sebagian kalangan, asesmen lapangan sering kali dipahami sebatas proses penilaian administratif untuk menentukan peringkat akreditasi. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga belum sepenuhnya benar. Dalam perspektif pengembangan pendidikan tinggi modern, asesmen lapangan adalah instrumen evaluasi yang bertujuan memastikan bahwa budaya mutu telah menjadi bagian dari kehidupan sebuah perguruan tinggi.

Akreditasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan tinggi berjalan sesuai standar mutu nasional, memenuhi kebutuhan masyarakat, serta mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, profesional, dan moral. Dengan demikian, keberhasilan akreditasi sesungguhnya bukan hanya diukur dari peringkat yang diperoleh, tetapi dari kemampuan institusi membangun sistem yang terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus meningkatkan kualitas.

Perjalanan STAI Babussalam Sula dalam membangun budaya mutu bukanlah perjalanan yang baru dimulai hari ini. Kampus ini telah melewati dua siklus akreditasi terhadap empat program studi yang dimiliki. Setiap siklus telah memberikan pengalaman kelembagaan yang sangat berharga dalam memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat sistem penjaminan mutu internal, serta membangun kepercayaan publik terhadap institusi.

Kini STAI Babussalam Sula memasuki siklus akreditasi ketiga, diawali oleh Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) melalui mekanisme akreditasi yang dilaksanakan oleh LAMDIK. Sementara itu, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah (AS), dan Program Studi Muamalah masih menunggu jadwal asesmen dari BAN-PT. Oleh sebab itu, keberhasilan Program Studi MPI akan menjadi pijakan sekaligus pengalaman penting bagi tiga program studi lainnya dalam menghadapi proses akreditasi berikutnya.

Dalam literatur manajemen mutu, W. Edwards Deming menegaskan bahwa kualitas tidak lahir dari inspeksi pada akhir pekerjaan, melainkan dibangun melalui perbaikan sistem secara terus-menerus (continuous improvement). Deming memperkenalkan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) sebagai pendekatan yang menekankan bahwa setiap organisasi harus merencanakan dengan baik, melaksanakan secara konsisten, mengevaluasi secara objektif, kemudian melakukan tindakan perbaikan secara berkelanjutan.

Jika konsep ini diterapkan dalam pendidikan tinggi, maka akreditasi bukanlah kegiatan lima tahunan yang hanya sibuk menjelang penilaian. Akreditasi seharusnya menjadi hasil dari budaya kerja yang setiap hari dibangun melalui pembelajaran yang bermutu, penelitian yang produktif, pengabdian kepada masyarakat yang berdampak, tata kelola yang transparan, serta pelayanan akademik yang profesional.

Pandangan Deming tersebut diperkuat oleh Joseph M. Juran, yang menyatakan bahwa mutu tidak terjadi secara kebetulan, melainkan harus direncanakan, dikendalikan, dan terus ditingkatkan. Konsep Juran Trilogy—Quality Planning, Quality Control, dan Quality Improvement—menjadi landasan penting bagi setiap institusi pendidikan tinggi dalam mengelola kualitas secara sistematis.

Dalam konteks STAI Babussalam Sula, proses penyusunan dokumen akreditasi merupakan bagian dari quality planning. Pelaksanaan standar akademik dan pelayanan kepada mahasiswa merupakan bentuk quality control. Sedangkan berbagai evaluasi, pembenahan kurikulum, peningkatan kompetensi dosen, penguatan penelitian, digitalisasi layanan akademik, serta pengembangan tata kelola merupakan implementasi nyata dari quality improvement.

Lebih jauh lagi, konsep Total Quality Management (TQM) memberikan pelajaran bahwa mutu bukan hanya menjadi tanggung jawab pimpinan atau tim akreditasi. Mutu adalah tanggung jawab seluruh warga organisasi ( sivitas akademika ). Dalam pendidikan tinggi, TQM menempatkan mahasiswa sebagai penerima layanan utama, sementara dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, alumni, pengguna lulusan, dan mitra kerja merupakan bagian dari ekosistem mutu yang saling terhubung.

Dengan perspektif TQM, keberhasilan akreditasi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan borang atau dokumen pendukung, tetapi juga oleh sejauh mana seluruh sivitas akademika memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga integritas akademik, disiplin administrasi, budaya pelayanan, kolaborasi, inovasi, dan kepuasan para pemangku kepentingan.

Karena itu, saya meyakini bahwa kehadiran asesor LAMDIK bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, kehadiran mereka merupakan kesempatan untuk memperoleh masukan objektif demi penyempurnaan institusi. Perguruan tinggi yang besar bukanlah perguruan tinggi yang merasa telah sempurna, tetapi perguruan tinggi yang selalu terbuka terhadap kritik, evaluasi, dan perubahan.

Sebagai salah satu perguruan tinggi Islam swasta di Kabupaten Kepulauan Sula, STAI Babussalam Sula memikul tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan memiliki daya saing. Oleh sebab itu, membangun budaya mutu harus menjadi gerakan kolektif yang melampaui kepentingan akreditasi semata. Budaya mutu harus menjadi identitas institusi.

Melalui tulisan ini, saya mengajak seluruh pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta seluruh keluarga besar STAI Babussalam Sula untuk hadir dan berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian Asesmen Lapangan LAMDIK Program Studi Manajemen Pendidikan Islam. Kehadiran kita adalah simbol kebersamaan, rasa memiliki, dan komitmen terhadap masa depan kampus.

Mari kita menyambut Dr. ST. Syamsudduha dan Prof. H. Nurcholish dengan penuh penghormatan, keramahan, dan profesionalisme. Tunjukkan bahwa STAI Babussalam Sula bukan hanya sedang mengikuti akreditasi, tetapi sedang membangun peradaban akademik yang berlandaskan mutu, integritas, dan pengabdian.

Saya optimistis, dengan kerja sama seluruh sivitas akademika serta doa dari masyarakat, proses Asesmen Lapangan ini akan berjalan dengan baik dan memberikan hasil terbaik. Lebih dari itu, saya berharap momentum ini menjadi titik tolak untuk memperkuat budaya mutu di seluruh program studi, sehingga STAI Babussalam Sula terus tumbuh sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif terhadap perubahan, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, dan Indonesia.

Akreditasi mungkin memiliki batas waktu, tetapi budaya mutu tidak pernah mengenal kata selesai. Ia adalah ikhtiar yang harus terus hidup, tumbuh, dan diwariskan dari satu generasi akademik kepada generasi berikutnya. Di situlah hakikat sebuah perguruan tinggi yang benar-benar berkualitas.