
Babussalam News, Sula— Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula Maluku Utara secara resmi melepas dan menempatkan 56 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Lapangan Integratif Berbasis Riset (KKLI-BR) Tahun 2026 pada sejumlah desa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sula.
Amatan Babussalam News, Kegiatan pelepasan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 6 Oktober 2026, bertempat di Auditorium STAI Babussalam Sula Maluku Utara. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian pelaksanaan KKLI-BR sebagai bentuk pembelajaran lapangan yang mengintegrasikan aspek akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pembentukan karakter mahasiswa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua STAI Babussalam Sula Dr. Sahrul Takim, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Sahbudin Lumbessy, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Panitia KKLI Saman Fokaaya, S.IP., M.Si., panitia pelaksana, para dosen, serta seluruh mahasiswa peserta KKLI-BR Tahun 2026.
Sebanyak 56 mahasiswa yang mengikuti kegiatan KKLI-BR Tahun 2026 berasal dari empat program studi di lingkungan STAI Babussalam Sula, yakni Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Hukum Ekonomi Syariah (HES), dan Hukum Keluarga Islam (HKI).
Para mahasiswa selanjutnya ditempatkan pada sejumlah lokasi yang telah ditentukan, yakni Desa Waisakai, Kecamatan Mangoli Utara Timur; Desa Naflow, Desa Waitulia, dan Desa Wai U, Kecamatan Mangoli Tengah; Desa Paratina, Kecamatan Sulabesi Barat; serta sebagian mahasiswa melaksanakan kegiatan KKLI di lingkungan kampus STAI Babussalam Sula.
Dalam sambutannya, Ketua STAI Babussalam Sula Dr. Sahrul Takim menegaskan bahwa pelepasan mahasiswa KKLI bukan sekadar seremoni akademik, tetapi merupakan momentum bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama berada di bangku kuliah ke dalam kehidupan nyata masyarakat.
Menurutnya, selama berada di lokasi KKLI, mahasiswa akan memasuki ruang pembelajaran yang jauh lebih luas. Jika selama ini mahasiswa memperoleh pengetahuan melalui ruang kelas, buku, diskusi, dan berbagai teori akademik, maka melalui KKLI mahasiswa akan berhadapan langsung dengan realitas kehidupan masyarakat.
“Jangan menganggap KKLI sebagai perjalanan meninggalkan kampus. Anggaplah KKLI sebagai perjalanan untuk menemukan makna dari ilmu yang selama ini saudara pelajari di kampus.”
Dr. Sahrul mengatakan bahwa masyarakat merupakan bagian penting dalam proses pendidikan mahasiswa. Karena itu, mahasiswa diminta untuk tidak datang ke lokasi KKLI dengan sikap merasa paling tahu, melainkan hadir sebagai pembelajar yang mampu menghargai pengalaman, pengetahuan lokal, serta kearifan masyarakat.
“Datanglah sebagai seorang pembelajar. Masyarakat mungkin tidak memiliki gelar akademik seperti yang saudara miliki, tetapi mereka mempunyai pengalaman hidup, pengetahuan lokal, kearifan, dan nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” pesannya.
Ia juga menekankan bahwa KKLI tahun 2026 memiliki kekuatan pada pendekatan berbasis riset. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan tidak sekadar melaksanakan program kerja, tetapi mampu melakukan pengamatan, mengidentifikasi persoalan, mengumpulkan data, menganalisis kondisi masyarakat, dan menyusun rekomendasi berdasarkan pendekatan ilmiah.
“Seorang intelektual bukan hanya orang yang mampu menjelaskan persoalan, tetapi orang yang mampu membaca persoalan dengan jernih dan menawarkan jalan keluar dengan bijaksana,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ketua STAI mengingatkan seluruh mahasiswa bahwa selama melaksanakan KKLI, mereka membawa nama baik almamater. Setiap perilaku, ucapan, dan tindakan mahasiswa akan menjadi bagian dari penilaian masyarakat terhadap STAI Babussalam Sula.
Karena itu, mahasiswa diminta menjaga etika, sopan santun, kedisiplinan, integritas, serta membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat.
“Jangan sampai satu perilaku buruk saudara menghapus seribu kebaikan yang telah dibangun oleh institusi. Saya ingin masyarakat melihat mahasiswa STAI Babussalam Sula sebagai mahasiswa yang santun, disiplin, mudah bergaul, memiliki pengetahuan, dan membawa manfaat,” tegasnya.
Dr. Sahrul juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan masyarakat hanya sebagai objek penelitian. Menurutnya, masyarakat harus ditempatkan sebagai mitra dalam proses akademik dan penelitian.
Mahasiswa diminta menjaga etika penelitian, meminta izin sebelum melakukan pengumpulan data, menghormati privasi masyarakat, tidak memanipulasi data, serta tidak membuat kesimpulan berdasarkan prasangka.
“Penelitian harus menghasilkan pengetahuan, tetapi pengetahuan itu harus tetap berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua STAI Babussalam Sula juga menyampaikan pesan kepada para dosen dan panitia agar terus memberikan pendampingan kepada mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, keberhasilan KKLI tidak hanya diukur dari terselesaikannya laporan, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa membangun pengalaman, kedewasaan, kepedulian, serta kemampuan beradaptasi dengan masyarakat.

Kepada mahasiswa, ia berpesan agar mampu menjaga solidaritas, bekerja sama, menghargai perbedaan, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai dinamika di lapangan.
“Saya tidak meminta saudara menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat selama KKLI. Tetapi saya meminta satu hal: jangan pulang sebelum memberikan manfaat. Jika belum mampu melakukan perubahan besar, lakukan perubahan kecil. Jika belum mampu memberikan solusi besar, berikan perhatian.”
Ia berharap 56 mahasiswa dari empat program studi tersebut dapat menjadikan KKLI-BR sebagai pengalaman akademik sekaligus perjalanan kemanusiaan yang mampu memperkuat kompetensi, karakter, dan kepedulian sosial.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga manusia yang memiliki tanggung jawab sosial dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Kampus memberikan saudara ilmu, masyarakat memberikan saudara pengalaman, riset memberikan saudara pemahaman, dan pengabdian memberikan makna terhadap ilmu yang saudara miliki,” pungkasnya.
Dengan pelepasan tersebut, seluruh mahasiswa peserta KKLI-BR Tahun 2026 selanjutnya akan menjalankan tugas akademik dan pengabdian di lokasi masing-masing dengan didampingi oleh dosen pembimbing.
STAI Babussalam Sula berharap pelaksanaan KKLI-BR tahun ini mampu menghasilkan pengalaman akademik yang bermakna, data dan kajian yang bermanfaat, serta kontribusi nyata bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sula.
“Pergilah untuk belajar, hadir untuk memahami, menelitilah untuk menemukan kebenaran, mengabdilah untuk memberi manfaat, dan pulanglah membawa perubahan.”

