
KEPULAUAN SULA – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan Integratif (KKLI) Angkatan XIII Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Maluku Utara, berkolaborasi dengan pemuda-pemudi Desa Baleha menyelenggarakan pentas budaya bertajuk “Melestarikan Budaya Bahasa Sula”. Rangkaian kegiatan pelestarian kearifan lokal ini resmi dibuka di Desa Baleha, Kecamatan Sulabesi Timur, pada Kamis (4/6/2026).
Direncanakan berlangsung selama satu pekan penuh, pentas ini memiliki keunikan tersendiri. Berbagai cabang perlombaan yang dikompetisikan secara eksklusif menggunakan bahasa daerah Kepulauan Sula (Li’sua) sebagai medium utama penyampaian. Cabang lomba tersebut meliputi pembacaan puisi, pantun, nyanyian tunggal, hingga mendongeng (storytelling).
Pendekatan Akademik dan Luaran Jurnal Pengabdian
Pentas budaya ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan rakyat, namun terintegrasi dengan tugas akademik mahasiswa KKLI yang dalam kesempatan kali dilakukan berbars riset.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Samsudin Buamona B, S.Fil.I., M.Ag., menjelaskan bahwa mahasiswa dituntut untuk mengimplementasikan tridarma perguruan tinggi secara komprehensif. Proses pendampingan masyarakat ini akan didokumentasikan dan dikembangkan menjadi Laporan Pengabdian Masyarakat.
Melalui proses bimbingan dan kurasi empiris, laporan tersebut nantinya akan disusun menjadi artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat sebagai bagian dari luaran wajib program KKLI.
Benteng terhadap Hegemoni Budaya Asing
Dalam sambutannya, Samsudin menyoroti urgensi pelestarian budaya lokal di tengah gempuran arus informasi dari media sosial yang sering kali membuat generasi muda lebih menggandrungi budaya asing.
“Melalui wadah ini, kita berharap dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan bahasa serta budaya lokal sebagai bagian dari eksistensi dan indentitas kita sebagai orang Sula. Jika tidak diwariskan dan diedukasikan secara berkelanjutan, budaya daerah kita terancam mengalami kemunduran,” paparnya.
Samsudin menambahkan, “Kegiatan KKLI ini diposisikan tidak hanya sebagai ruang pengembangan kreativitas, tetapi juga sebagai media edukasi strategis untuk menyelamatkan identitas sosiokultural masyarakat Kepulauan Sula. “

Orientasi Riset dan Tanggung Jawab Institusional
Komitmen menjaga kearifan lokal ini dipertegas oleh Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STAI Babussalam Sula, Sahabuddin Lumbessy, S.Pd.I., M.Pd.I yang hadir mewkili Ketua STAI Babussalam Sula Maluku Utara. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi memikul tanggung jawab akademik untuk memastikan nilai-nilai budaya Sula tetap hidup dan relevan.
“Program KKLI yang dilaksanakan oleh STAI Babussalam pada tahun 2026 ini berorientasi pada riset. Oleh karena itu, progres kegiatan lebih diarahkan pada penguatan kebudayaan Sula,” tegas Sahabuddin.
Ia menambahkan bahwa Li’sua adalah fondasi kebudayaan yang saat ini telah diintegrasikan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah dasar hingga menengah. “Dengan demikian, intervensi penguatan terhadap Li’sua harus terus dilakukan secara masif dan terstruktur di Kepulauan Sula.”
Pentas budaya ini dibuka secara resmi oleh Penjabat (Pj) Kepala Desa Baleha, Bachtiar Koroy. Ia memberikan apresiasi tinggi atas kerja kolaboratif antara mahasiswa KKLI dan elemen pemuda desa. Pihaknya berharap, kegiatan ini dapat menjadi katalisator dalam meningkatkan semangat serta kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda di Desa Baleha, terhadap kekayaan bahasa dan seni tari peninggalan leluhur Sula.
Malam pembukaan ini turut dimeriahkan oleh suguhan tari tradisional persembahan anak-anak dan pemuda setempat, di antaranya Tari Dengan-dengan, Samra, dan Lalayon, yang disaksikan langsung oleh jajaran pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat dari Desa Baleha dan desa-desa tetangga.


