OTOKRITIK FENOMENA SOSIAL 2026 (Sula Krisis Kritik Kredibelitas terhadap Akulturasi)

Oleh : Sahabuddin Lumbessy (Akademisi STAI Babussalam Sula/Aktivis Nahdlatul Ulama Kepulauan.Sula)

Platform Media Sosial Akhir akhir ini Manampakkan wajah sebagai pemberi Informasi paten, Dan Para pegiat Literasi sebagian tidak memfilter dan langsung Menjadikan informasi itu sebagai Bahan Diskusi berkelanjutan, Diskusi berdasarkan Sumber informasi yang belum tentu Kebenarannya akan memberikan simpulan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa melalui media sosial banyak informasi berkembang dan memudahkan pegiat literasi membangun kajian dan kritik melalui data dan informasi yang disediakan, kesadaran  atas pentingnya eksistensi media sosial diharuskan seiring dengan kesadaran menyaring Kebenaran informasi dengan kesadaran analisis kritis terhadap berbagai sumber-sumber informasi sehingga mendapatkan simpulan yang bersifat kredibilitas.

Halayakramai saat ini seakan terhipnotis dengan Keadaan yang mengarah pada informasi-informasi yang di-branding oleh Pihak-pihak yang berkepentingan atas keinginan sepihak dengan niat kemenangan diberbagai sektor; orang niat menang Dalam Pemilihan, Menang dalam Lobi/tender proyek Miliaran, dan Berbagai macam Kelompok yang ingin menang dari kelompok lainnya dengan cara Menyerang tanpa ada etika dan Norma, ini menjadi bagian awal dari rusaknya sistem sosialisasi masyarakat yang seharusnya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Hilangnya Nilai-nilai kebudayaan ke-sulaan dalam kehidupan bermasyarakat menjadi bagian dari faktor kekacauan Sosial yang tidak terasa auranya tetapi memiliki kekuatan perusak sistem yang tidak bisa tertandingi. Tidak disadari tradisi Lompoa dohoi berubah makna menjadi Hutang-piutang antara sesama, Sejarah Ke-sulaan hanya menjadi Cerita-cerita rakyat tanpa keyakinan dan pembuktian perilaku yang sesuai nilai.

Beragam Permasalahan Sosial Kemasyarakatan yang timbul akibat Dinamika politik perebutan Kekuasaan yang dimulai dari PILKADA, PILEG dan PILKADES masih membekas dihati masing-masing Kelompok tanpa ada rasa kedamaian jiwa, mengakibatkan munculnya sifat dendam berkelanjutan dan saling menjatuhkan dalam perebutan kekuasaan. Sekian banyak Permasalahan yang timbul dari berbagai Faktor yang disebutkan, harus ada solusi yang konstruktif dengan Daya pikir kritis dan Kredibelitas.

Konsentrasi Publik Mengarah Pada aktifitas euforia kelompok Kekuasaan dan melupakan nilai-nilai Kebudayaan yang seharusnya menjadi Patokan Kehidupan masyarakat, begitu banyaknya Fenomena Sosial kemasyarakatan yang ter-indikasi menghilangkan Nilai tradisi/kebudayaan kesula-an seperti Maraknya orang mengkonsumsi  minuman keras, Penyelenggaraan Pesta (Joget) disetiap hajatan masyarakat, Hilangnya etos kerja dan kemandirian Masyarakat, semua ini seakan tidak dihiraukan padahal ini adalah bagian dari fenomena yang mengancam proses pembangunan manusia secara berkelanjutan.

Pengaruh Akulturasi yang menyebabkan hilangnya pengaruh nilai-nilai luhur seperti menghargai eksistensi Pemimpin (Sangadji) sebagai tokoh Kunci pengatur masyarakat telah kehilangan makna karena eksistensi pemimpin yang dulunya dipilih berdasarkan ke-tokoh-an, figur kunci yang memiliki kemampuan mengatur (Kepala Kampung/sangadji/tokoh adat/ dsb) berubah dengan kriteria modern bercampur konstalasi politik Kecurangan yang menghasilkan pemimpin diluar filosofi nilia-nilai luhur.

Nilai-nilai tradisi Maksaira, Magugasa dan Manatol, hampir tidak memiliki Makna akibat dari pengaruh perubahan sosial yang signifikan. Tradisi yang sering diselenggarakan dalam pernikahan seperti Sarobadaka, Bakayab Hai do bobet, bakagia’el serta bin’uba dan sebagainya, yang idealnya memiliki makna doa dan Harapan kebahagiaan dinodai dengan berbagai Peristiwa perkelahian dalam pesta Joget yang diselenggarakan ditengah-tengah hajatan pernikahan.

Selain dari berbagai Fenomena sosial yang disebutkan, ada juga beberapa fakta mengerikan yang terjadi akhir-akhir ini pada momentum pasca sholat idul fitri, terjadi berbagai macam kasus perkelahian pemuda antara desa satu dengan desa lainnya yang rata-rata kondisi empiris membuktikan bahwa dominasi pengaruh minuman keras, idealnya suasana pasca Idul fitri tahun 2026 diisi dengan penguatan tradisi pamanatol yang dipraktekkan dengan cara saling bersilaturrahim bermaaf-maafan antara sesama, dinodai dengan saling bermusuhan antara sesama, ini juga merupakan akibat dari Akulturasi budaya jahiliyah (Kebodohan terhadap Petunjuk Tuhan) yang memiliki pengaruh signifikan terhadap sebagian Masyarakat Kepulauan sula.

Menanggapi Fenomena-fenomena  akulturasi budaya lain yang berpengaruh dan menggeser nilai dan kebudayaan Ke-sulaan, harus ada kesadaran kolektif terhadap penguatan nilai tradisi leluhur terhadap kehidupan masyarakat sula secara keseluruhan.

Kondisi empiris yang terjadi merupakan satu keadaan krisis kebudayaan yang perlu penanganan serius. Disebut krisis karena situasi genting, berbahaya karena merusak atau titik balik yang tidak diharapkan serta  mengancam stabilitas individu, organisasi atau masyarakat. Ini perlu adanya analisis  penilaian atau tanggapan objektif terhadap suatu fenomena yang terjadi atau kebijakan untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan guna perbaikan, analisis kondisi objektif dimaksudkan sebagai bentuk kritik. Kritik bertujuan meningkatkan pemahaman dan apresiasi, Kritik tidak hanya memberikan solusi, tetapi lebih ke fungsi kontrol.

Kritik bermaksud mengarah pada teoritik/konsep yang bisa dipertanggung Jawabkan dan memiliki

kredibilitas tinggi. Kredibilitas mencakup kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan terhadap nilai-nilai Sosial ke-masyarakatan yang pada awalnya menjadi penyangga Kehidupan sosial orang sula secara umum.

Sebagai langkah ikhtiar terhadap dampak dari Fenomena sosial  yang terjadi, harus ada teamwork communication yang melibatkan seluruh Unsur diantaranya Forkopimda dan Stakeholder karena untuk merubah/memperbaiki situasi sosial atau Revitalisasi Budaya membutuhkan usaha bersama melalui kesepahaman bersama dan kebijakan para pemimpin.