
Humas STAI Babussalam, — Pembangunan sarana ibadah di lingkungan kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula Maluku Utara resmi dimulai. Peletakan batu pertama pembangunan Musholla STAI Babussalam Sula dilakukan oleh Ketua Yayasan Babussalam Sanana, H. Abd. Rahman Khari, S.Ag., M.Pd.I, pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Prosesi peletakan batu pertama berlangsung di lokasi pembangunan yang berada di samping kampus STAI Babussalam Sula Maluku Utara. Kegiatan tersebut turut dihadiri Rustam Tidore selaku Kabag Administrasi, panitia pembangunan musholla, serta sejumlah dosen STAI Babussalam Sula.
Pembangunan musholla ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat fasilitas penunjang kehidupan akademik dan keagamaan di lingkungan kampus. Kehadiran tempat ibadah diharapkan tidak hanya menjadi sarana pelaksanaan salat berjamaah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan spiritual, pendidikan karakter, serta penguatan nilai-nilai keislaman bagi mahasiswa dan civitas akademika.
Kepada media ini, Ketua STAI Babussalam Sula, Dr. Sahrul Takim, menyampaikan apresiasi atas dimulainya pembangunan musholla tersebut. Menurutnya, pembangunan sarana ibadah di lingkungan perguruan tinggi memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik.
«“Musholla ini bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah, tetapi diharapkan menjadi bagian dari proses pendidikan karakter mahasiswa. Kampus harus menjadi ruang untuk membangun kecerdasan intelektual sekaligus memperkuat spiritualitas dan akhlak,” ujar Dr. Sahrul Takim.»
Pada kesempatan tersebut, Ketua STAI Babussalam Sula juga menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Sherly Tjoanda dan Bapak Sarbini Sehe selaku bagian dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara atas dukungan dan perhatian terhadap pengembangan fasilitas pendidikan keagamaan di STAI Babussalam Sula.
Menurutnya, dukungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, khususnya melalui alokasi anggaran untuk pembangunan musholla, merupakan bentuk perhatian nyata terhadap pengembangan pendidikan tinggi Islam di Kepulauan Sula.
«“Atas nama civitas akademika STAI Babussalam Sula, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Sherly Tjoanda dan Bapak Sarbini Sehe selaku Pemerintah Provinsi Maluku Utara yang telah membantu mengalokasikan anggaran untuk pembangunan musholla di kampus ini. Bantuan ini tentu sangat berarti bagi kami dan akan menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas keagamaan dan pembinaan karakter mahasiswa,” ungkapnya.»

Ia menambahkan bahwa pembangunan musholla tersebut merupakan wujud sinergi antara yayasan, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pendidikan di daerah.
“Kami percaya bahwa membangun pendidikan bukan hanya membangun ruang kelas, tetapi juga membangun ruang-ruang yang dapat membentuk jiwa, akhlak, dan karakter generasi muda. Karena itu, musholla ini nantinya diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan STAI Babussalam Sula,” tambahnya.
Dr. Sahrul Takim berharap dukungan dan sinergi tersebut dapat terus terbangun untuk mendukung berbagai program pengembangan STAI Babussalam Sula ke depan. Ia juga mengajak seluruh civitas akademika untuk bersama-sama menjaga dan memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sebaik-baiknya.
“Peletakan batu pertama hari ini adalah awal dari sebuah ikhtiar. Kita berharap pembangunan ini dapat diselesaikan dengan baik dan menjadi amal jariyah bagi semua pihak yang telah memberikan dukungan. Semoga setiap aktivitas ibadah, pembelajaran, dan pembinaan mahasiswa yang berlangsung di tempat ini menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Babussalam Sanana, H. Abd. Rahman Khari, S.Ag., M.Pd.I, secara simbolis melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan musholla.
Pembangunan tersebut diharapkan dapat menghadirkan fasilitas ibadah yang representatif bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat di sekitar kampus. Selain sebagai tempat ibadah, musholla nantinya diharapkan menjadi ruang pembinaan keagamaan, penguatan ukhuwah, dan pembentukan karakter mahasiswa.
Peletakan batu pertama tersebut menjadi simbol dimulainya sebuah ikhtiar bersama. Dari sebuah batu pertama, diharapkan tumbuh sebuah tempat yang bukan hanya menjadi rumah ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan ilmu, membangun akhlak, mempererat ukhuwah, dan melahirkan generasi yang membawa manfaat bagi agama, masyarakat, dan daerah Kepulauan Sula.
